‘Berkarir’ di Rumah, Mengapa Tidak?
Bisa Momong Anak, Duit Datang Sendiri….
Cari duit tidak harus dengan menjadi ‘orang gajian’ dengan bekerja sebagai karyawan kantoran. Membangun ‘karir’ rumah dengan usaha yang mencetak untung pun kini makin jadi tren. Memang, bekerja dari rumah sama sekali tak mudah. Padahal penghasilan besar bisa diperoleh. Selain bisa mengatur waktu sendiri dan mengawasi anak, siapkan juga diri dan mental Anda.
KINI, yang namanya menjadi perempuan karier sudah sangat jamak. Bahkan, tak jarang karier perempuan lebih baik dibandingkan pria. Namun, perempuan karier kerap dilanda dilema. Harus terus berkarier, atau konsentrasi mengurus anak?
Hal ini dialami Yulianti Said, pemilik event organizer (EO) pesta anak Giggles Party, yang memilih berhenti bekerja karena pertimbangan anak. Padahal, dia sempat mencapai posisi Deputy Marketing & Promotion Manager di kantor sebelumnya. Diakuinya, saat memutuskan berhenti bekerja, rasanya sangat berat. Namun, keyakinannya semakin kuat usai melahirkan anak kedua.
Yuli lalu memilih bekerja di rumah saja. Kebetulan, bidang pekerjaan yang pilihnya tak jauh dari bidang semula. Saya harus membuka usaha yang sesuai dengan yang saya pahami. Enggak mungkin, saya yang sudah 10 tahun bekerja, tiba-tiba harus berhenti. Pokoknya, harus ada kegiatan. Untungnya, sudah ada bayangan usaha apa yang mau saya lakukan,” papar Yuli yang memakai kamar anaknya sebagai ”kantor” di awal usahanya dulu.
Apa yang dialami Yuli, juga dialami banyak perempuan lain. Jika memang ingin berhenti bekerja dan memulai karier dari rumah, dengan alasan agar lebih mudah mengawasi dan memerhatikan anak-anak, tentu ada beberapa pertimbangan yang harus dipikirkan, sebagai berikut:
-Tergantung Niat
Menurut Diah P. Paramita, Psi, MSi, konsultan dari Jagadnita Consulting, bekerja merupakan pilihan pribadi setiap orang. Sementara, keputusan berhenti bekerja merupakan pilihan yang tak mudah, terutama jika sebelum menikah, sudah aktif bekerja.
Setelah lahirnya buah hati, dilema terus bekerja atau konsentrasi mengurus anak lantas melanda. Menjadi dilema, karena bekerja di kantor menyenangkan. Terlebih jika sudah punya jabatan tinggi. Tetapi di lain pihak urusan anak pun butuh energi tersendiri. Misalnya soal menitipkan anak ke tangan orang yang tepat selama di tinggal bekerja.
Untuk memutuskan berhenti bekerja, lanjut Diah, tergantung dari niat awal. Apakah ingin bekerja di rumah karena alasan anak, atau sudah tak suka lagi bekerja di balik meja.
Jauhnya jarak antara rumah dan kantor pun kerap dijadikan alasan seseorang memilih bekerja di rumah. Dengan begitu, waktunya tak banyak habis di jalan, dan punya waktu cukup untuk bertemu dengan anak di rumah. Diah membenarkan, sejauh ini, faktor anaklah yang biasanya dijadikan alasan utama, mengapa ibu memutuskan berhenti bekerja, meskipun kariernya sedang bagus-bagusnya.
Anak yang ditinggal bekerja biasanya akan menjadi sangat peka. Bisa jadi nilai ulangannya jelek atau tingkah lakunya tidak baik. Bahkan, ada lho, anak yang berkomentar, Memangnya kita miskin ya Ma, sampai Mama harus bekerja?’ Nah, saat itulah sang mama jadi mulai berpikir demi anak.”
Ada juga, lanjutnya, anak yang selalu menangis setiap ditinggal ibunya bekerja. Akibatnya, bisa menambah berat bagi para ibu yang bekerja. Memang, ibunya bisa saja menelepon anaknya 10-15 kali dari kantor. Tapi, apakah dengan begitu dia bisa dapat dua-duanya, artinya karier dan anak?”
-Ditanggung Sendiri
Jadi, sebenarnya perlukah para ibu tetap bekerja, jika Si Kecil merasa tak mendapat perhatian lebih? Menurut Diah, perlu tidaknya, kembali ke individu masing-masing. Jika dibutuhkan untuk membantu menambah periuk nasi keluarga, artinya bekerja menjadi perlu.
Yang perlu diingat, selain untuk kebutuhan pribadi dan keluarga, bekerja juga penting untuk aktualisasi diri. Itu sebabnya, ketika berhenti bekerja sudah menjadi keputusan, banyak perempuan yang butuh penyesuaian diri lebih.
Misalnya saja, yang tadinya selalu berangkat ke kantor, mendapat gaji bulanan, tunjangan, belanja bulanan, tiba-tiba harus berada di rumah dan tidak lagi mendapat semua fasilitas itu. Selain itu, pasti akan dirasakan suasana dan tanggung jawab yang berbeda dibandingkan ketika masih bekerja di kantor.
Lantas, bagaimana jika memutuskan untuk bekerja dari rumah? Yang pertama, urai Diah, semua urusan harus ditanggung sendiri, termasuk pengadaan dana awal, atau modal. Jika memang ingin bekerja di rumah, yang terutama harus memiliki adalah jaringan luas. Networking harus tetap terjalin.”
Ada beberapa pilihan pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Antara lain, membuat kerajinan tangan, memberi les, membuka usaha salon, menerima jahitan baju, dokter, psikolog, katering, menjual kue, membuka warung, editor, penulis, penerjemah, desainer, event organizer, merias pengantin, atau ikut MLM (Multi Level Marketing).
Diah mengingatkan, bekerja dari rumah butuh perjuangan yang tak ringan. Sebab, dengan merintis usaha sendiri dari rumah, kita harus siap mengurangi kesenangan yang bersifat konsumtif. Misalnya belanja baju atau jalan-jalan.
Hal ini dibenarkan Yuli, terutama dalam hal materi. Saya harus mendapatkan pemasukan untuk menutupi pengeluaran. Sehingga lebih banyak yang dipikirkan. Apalagi jika punya karyawan. Kita harus mengurus mereka dengan segala persoalannya. Itu sebabnya saya memilih cara manajemen keluarga. Saya ajak keluarga bersama-sama membangun usaha.” (agung budi/nova)
Bekerja Nyaman Sambil Momong Anak

MESKI terasa berat dan harus memulai semuanya dari awal, namun bekerja di rumah juga tetap ada kelebihannya. Selain bisa mengatur waktu dan segala sesuatu sendiri, juga bisa sekaligus mengawasi anak. Awalnya memang berat, tapi jika sudah punya karyawan, kita bisa mendelegasikan tugas ke mereka,” kata Yuli.
Enaknya lagi, lanjut Yuli, di pagi hari dia bisa bekerja sambil menunggu anak pulang sekolah, sorenya masih bisa mengantar anak les. Sebelum jam 8 malam, sudah ada di rumah menemani suami dan mengawasi anak belajar,” ujarnya.
Agar suasana bekerja di rumah semakin mengasyikan, ajak suami membuat kesepatakan bersama. Misalnya, urusan usaha Anda lebih banyak dilakukan di akhir minggu, buatlah kesepakatan dengan suami untuk memilih hari libur pengganti.
Seperti yang dilakukan Yuli, misalnya, bersepakat memilih hari Senin sebagai hari libur bersama suaminya, karena Sabtu-Minggu justru pekerjaannya padat. Di hari Seninlah kami seharian memberi waktu pada anak-anak, misalnya ke mal,” jelas Yuli.
Diah pun sepakat dengan hal tersebut. Bahkan Diah menekankan akan perlunya motivasi kuat yang harus terus digali agar tak putus asa di tengah jalan. Yang jelas, dari awal harus stabil dulu segala sesuatunya dan lihat keahlian yang dimiliki. Jika bisa menjahit, tawarkan ke lingkungan sekitar rumah dulu. Jangan langsung membayangkan yang wah.”
Nah, jika sudah menentukan jenis pekerjaannya, kembalikan lagi ke pribadi yang bersangkutan. Apakah betul-betul bisa bekerja sendiri atau harus dibantu orang lain. Beban setiap orang pasti berbeda. Ada yang diberi pekerjaan satu bisa langsung kelelahan. Tapi ada juga yang diberi pekerjaan banyak, malah merasa senang.”
Selain itu, bersiaplah untuk memberi contoh yang baik pada anak. Tetaplah aktif, jangan pasif. Jangan sampai anak berpikir, kok ibunya sekarang enak-enakan saja di rumah. Jadi, perbanyak membaca dan mencari informasi terbaru.” (agung budi/nova)
Siapkan Transisi dari Kantoran ke Rumahan
ADA perbedaan rutinitas bagi mereka yang sebelumnya bekerja kantoran, lalu memutuskan bekerja di rumah saja. Di satu sisi, memang lebih enak karena dekat dengan anak. Tapi, ada beberapa persiapan yang perlu dilakukan.
1. Mental. Kuatkan mental menghadapi kondisi dan semua peristiwa yang akan terjadi di lingkungan rumah. Misalnya, menghadapi tetangga yang suka ngerumpi.
2. Orang Rumah. Siapkan juga mental orang rumah, jika nyonya rumahnya sudah tak lagi bekerja kantoran.
3. Uang. Siapkan diri menghadapi perubahan penghasilan. Siapkan mental untuk menerima pemasukan yang banyak, tapi di lain waktu mungkin tak ada pemasukan sama sekali.
4. Rencana. Lakukan rencana ulang dengan keluarga, apa saja yang harus diubah saat akan membuka usaha sendiri.
5. Ilmu. Perbarui terus informasi dan pengetahuan. Tinggal di rumah bukan berarti harus diam saja, lho!
6. Jejaring. Bina dan perluas networking Anda.
7. Target. Tentukan target agar usaha Anda tak jalan di tempat.
8. Waktu. Jangan mentang-mentang bekerja di rumah, jadi lupa dengan waktu. Atur waktu antara bekerja, anak, dan suami.(agung budi/nova)
Jangan Takut Gagal Ketika Memulai
JANGAN takut gagal ketika baru saja memulai usaha. Yang penting pede, dan teruslah bermimpi! Mengapa kini banyak orang mulai memilih membuka usaha sendiri? Tentu banyak sekali alasan yang melatarbelakanginya. Salah satunya faktor kebutuhan yang makin meningkat, seiring kenaikan harga di segala bidang.
Kendati demikian, menurut Fauziah Arsiyanti, SE. MM. Dip IFP, Adviser Personal Financial Services dari FirstPrincipal Financial, keinginan berwirausaha ini tak hanya dilatarbelakangi faktor ekonomi saja. Mereka yang hidup berkecukupan pun mau berwirausaha karena ingin mengaktualisasikan diri, tanpa perlu meninggalkan keluarga dengan bekerja di luar rumah,” ujar perempuan yang kerap disapa Zizi ini.
Misalnya, seorang perempuan yang sudah lama bekerja kantoran, merasa kariernya tak berkembang, dan ia pun bosan jika tinggal di rumah hanya mengurus anak saja. Nah, dengan berwirausaha, Ia jadi makin terbuka, pintar mengatur uang, bisa mencari target pasar, tahu cara berpromosi, bahkan membuat produknya sendiri. Ia jadi lebih berkembang dari sebelumnya.” (*)
Bisniskan Hobi dan Kegemaran

BISA saja seseorang berkarier bagus, namun ia membutuhkan tantangan lain di luar rutinitasnya, lalu memutuskan berwirausaha. Dengan bekerja kantoran, ia memiliki net working yang baik. Hal ini bisa menjadi modal ketika memutuskan berwirausaha, sehingga ia punya banyak klien, ” kata Fauziah Arsiyanti, SE. MM. Dip IFP, Adviser Personal Financial Services dari FirstPrincipal Financial.
Faktor lain yang juga kerap dijadikan alasan berwirausaha, yaitu hobi. Banyak orang merasa menemukan kepuasan batin dengan berwirausaha yang didasari hobinya.” Di samping itu, faktor anak pun biasanya menjadi alasan para perempuan memutuskan berwirausaha. Namun, Zizi mengingatkan, meski anak dapat diasuh sendiri, tetap harus fokus dengan usahanya agar semua dapat berjalan lancar.
Lalu, usaha apa saja yang dapat dilakukan di rumah? Menurut Zizi, berbagai usaha dapat dilakukan. Membuka les privat, salon, spa, pijat dan aromaterapi, menerima jahitan, membuka butik, kantin, katering, dan membuat kue, bahkan membuat website atau blog. Berikut tips dari Zizi, yang harus diperhatikan ketika akan memulai usaha bagi para pemula:
1. Miliki Mimpi!
Bermimpilah jadi pengusaha sukses, punya uang banyak, bisa liburan ke luar negeri dan tempat-tempat eksoktis, atau tak perlu memikirkan pekerjaan lagi karena sudah punya banyak uang. Lalu bayangkan, dari mana uang itu bisa mengalir ke rekening Anda, atau dari usaha apa agar bisa sukses. Apakah akan jadi pengusaha restoran, garmen, atau lainnya? Bayangkan secara jelas, dan sedetail mungkin. Semua kesuksesan berdasar dari mimpi. Jadi, jangan takut berkhayal atau bermimpi.
2. Obesi dan Hobi.
Apa, sih, hobi Anda? Memasak, menjahit, atau mengajar anak-anak? Nah, Anda harus bisa menjalankannya dengan hati. Jadi, yang Anda lakukan memiliki jiwa, nyawa, dan nilai. Semua yang dilakukan dengan hati, pasti akan lebih lancar dijalankan.
3. Lihat Kenyataan.
Setelah berkhayal, kembalilah ke realita. Kepala boleh di langit, tetapi kaki harus tetap menjejak bumi. Mulailah dari yang Anda punya, dan jangan membandingkan dengan milik orang lain. Jika mampu memasak dan hasilnya disenangi orang rumah, Anda berbakat membuka katering. Atau, sabar melatih anak, mampu dan terlatih mencarikan solusi bagi anak-anak yang kurang fokus belajar? Jadilah guru les dan pembimbing.
4. Buat Rencana Bertahap.
Mulailah membuat rencana bertahap. Buatlah kondisi dari nol dengan satu syarat, selalu melihat ke depan. Misalnya, tak punya uang tapi punya modal kemampuan. Jika punya uang Rp 500 ribu dan pintar masak, apa yang akan dilakukan agar bisa menghasilkan lebih. Lakukan bertahap, perlahan, sesuai kemampuan. Jika dilakukan dengan benar, lambat laun keuntungan akan mengikuti Anda.
5. Susun Berbagai Rencana.
Ketika usaha mulai berjalan, jangan hanya memiliki satu rencana saja. Buat juga rencana B, C, atau D. Misalnya, setelah membuka warung tapi sepi pengunjung, mulailah berpikir kreatif dan jalankan rencana B. Jangan menunggu orang datang, tapi harus menjemput bola dan tawarkan kemudahan lain. Misalnya, memberi pelayanan delivery service. Jika rencana B ternyata belum berhasil, jalankan rencana C, dan seterusnya.
6. Buat Anggaran.
Jika usaha sudah berjalan, buat anggaran pengeluaran dan pemasukan dengan rapi. Pisahkan antara pemasukan dan pengeluaran dari gaji suami atau istri untuk biaya sehari-hari, dengan hasil usaha. Sebaiknya, uang dipecah ke dalam dua rekening bank, dan jangan masuk ke dompet, agar tidak boros dan mudah melihat laba yang didapat.
Jika tak membuat anggaran dan hanya tambal sulam, Anda tak akan bisa melihat laba yang diraih. Yang ada, Anda justru tidak tahu apakah usahanya sukses atau gagal. Dengan membuat anggaran yang tepat, kesalahan yang muncul akan bisa dicari penyebabnya, dan dapat segera diperbaiki. (*)
Delapan ‘Jangan’ Dalam Berwirausaha
1. Jangan Berutang
Aapalagi dengan jaminan. Jika mampu membayar secara lancar, tentu tak akan jadi masalah. Bagaimana jika tiba-tiba usahanya gagal dan tak bisa mengembalikan pinjaman?
2. Jangan Ekspansif
Jangan serakah berekspansi! Jika modal awalnya hanya mesin jahit dan satu orang pegawai, sebaiknya berusaha dengan itu saja dulu. Jika order sudah meningkat, dan mampu membeli mesin jahit baru, lakukan ekspansi secara perlahan, dan jangan sampai salah strategi.
3. Jangan Lupa Anggaran.
Biasanya, perempuan lebih teliti dalam membuat anggaran. Meski terkadang lebih konsumtif, perempuan tetap tahu risikonya jika terus melakukan hal itu.
4. Jangan Konsumtif.
Ketika akan memulai usaha, harus banyak menahan diri. Lupakan sejenak hobi belanja barang mewah dan mahal, termasuk arisan!
5. Jangan Emosi.
Be professional! Jika sedang ada masalah, jangan menerima klien bisnis dengan wajah cemberut. Hubungan dengan klien harus tetap terjaga, separah apapun masalah Anda.
6. Jangan Takut Gagal.
Pede saja dengan apa yang akan Anda dikerjakan. Yakinlah, produk yang Anda buat berkualitas bagus, halal, dan punya keunikan sendiri. Mulailah dari apa yang Anda punya, dan jangan takut gagal.
7. Jangan Campurkan Uang.
Ini kendala yang paling sering terjadi. Akibat sibuk berwirausaha, lantas lupa mencatat semua anggaran, mulai dari memasukkan ongkos produksi, hingga salah mengatur target.
8. Jangan Salah Memberi Harga.
Produk yang termasuk barang mewah, jangan diberi harga murah, meski modalnya kecil. Terkadang orang beranggapan, barang murah pasti kualitasnya jelek, padahal belum tentu. Jika sudah yakin dengan target pasarnya, Anda harus pede memberi harga mahal, dengan diimbangi jaminan kualitas produk yang bagus. (*)


Hi, Ibu Yuli … saya sangat salut kepada ibu. Ibu sangat luar biasa. Saya terinspirasi dengan pekerjaan ibu. Bu… aku ingin seperti ibu yang dapat membagi waktu dan mengurus anak. Bu, sebenarnya saya bukan seorang ibu rumah tangga. Saya adalah seorang mahasiswa yang sangat senang bekerja seperti yang ibu lakukan. Bagaimana saya bisa belajar untuk membuat karya tangan misalnya membuat tas yang berasal dari sisa bungkus kopi, bungkus sunlight, molto dll. Aku ingin sekali mengetahui cara membuatnya bu. Adapun niat ini saya lakukan adalah untuk membantu para ibu yang ada di daerah kumuh yang tidak ada pekerjaan. Aku ingin sekali membantu mereka dengan menawarkan pekerjaan tangan tersebut. Di samping untuk membantu perekonomian mereka, saya juga ingin memberikan pengajaran untuk anak-anak mereka agar nantinya mereka dapat menjadi anak-anak yang berkarya. Untuk itu saya ingin tahu dari mana dan di mana saya bisa belajar membuat karya tangan tersebut. Saya ingin jawaban ibu dan alamat ibu!