Tertegun Doa Tulus Pengemis Bisu
AKU tertegun melihat pemandangan yang tiap hari aku lihat di Gerbong Kereta Rel Listrik (KRL) Jurusan Serpong - Tanah Abang. Seorang pengemis, entah siapa namanya, selalu memanjatkan doa sembari mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi ke langit. Si Abang itu selalu memanjatkan doa begitu diberi uang oleh penumpang, enggak peduli berapa duit ia terima.
Tiap sedekah selalu diganjar balik dengan ‘hadiah’ doa. Aku sendiri enggak tahu apa doa yang dia panjatkan. Soalnya, si Abang ini tuna wicara alias bisu! Kedua kakinya pun lumpuh. Ia berjalan dengan cara ngesot. Ia menggerakkan tubuhnya dengan tangan kanan berfungsi sebagai ‘kaki.’ Kedua kakinya yang lumpuh itu posisinya selalu dalam kondisi terlipat, mirip-mirip posisi duduk bersila menyamping.
Biarpun bisu, Si Abang selalu berdoa dengan cara komat-kamit. Apapun doanya, pasti doa demi kebaikan si pemberi sedekah. Dari ekspresi wajahnya terpancar ketulusan. Terkadang air matanya meleleh ke pipi saat berdoa. Aku sampai menebak-nebak dan penasaran, apa sih doa yang dia panjatkan kok sampai mengharu biru ekspresi wajahnya?
Aku jadi inget ucapan seorang teman. Ia mengatakan, sukses yang Anda raih belum tentu lantaran Allah mengabulkan doa Anda. Bisa jadi lantaran doa orang lain untuk Anda yang dikabulkan. Pendek kata, kita semua enggak tahu, dari bibir siapa doa itu dikabulkan. Bisa doa dari ibu, doa saudara, teman atau orang-orang yang bersimpati pada keluarga kita. Bahkan bisa jadi, doa Si Abang pengemis bisu itu yang dikabulkan Allah untuk kita. Yang jelas, doa-doanya orang-orang tertindas, teraniaya, melarat, itu konon lebih makbul dan paling didengar…