Mencegah Trauma Anak Akibat Perceraian
Psikologis Anak Terguncang Akibat Perpisahan Orang Tua

PERCERAIAN dikhawatirkan berdampak buruk pada anak-anak. Itu pula yang menjadi kekhawatiran Maia Estianty saat mengajukan gugatan cerai terhadap Ahmad Dhani Prasetyo atau akrab disapa Dhani ‘Dewa 19′ pada 2007 silam, dan kini proses perceraiannya masih terus bergulir di tingkat banding di Pengadilan Tinggi Agama DKI Jakarta itu.
“Saya nggak mau anak-anak terguncang dan tertekan akibat semua (proses perceraian) ini. Apalagi mereka masih dalam proses pertumbuhan fisik maupun psikis,” kata Maia Estianty, juragan grup vokal Duo Maia (dulu bernama Ratu) itu. Biar begitu, Maia tetap berusaha agar tiga putranya, Ahmad Al Gazali, El Jalaluddin Rumi, dan Abdul Qodir Jaelani, tetap menyadari status hubungan kedua orang tuanya.
Upaya yang dilakukan Maia agar anak-anaknya tak terguncang, dimulai dari memberikan pengertian kepada Al, El, dan Dul, begitu ketiga anaknya akrab disapa, hingga dibantu dengan pihak ketiga yaitu Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Maia menuturkan, sebelum mengajukan gugatan cerai, terlebih dahulu dia mendekati ketiganya untuk meminta restu dan izin dari mereka. Dukunganpun diberikan seiring penjelasan Maia perihal prahara rumah tangganya dengan Dhani. Maia menyebutkan, perceraian adalah jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah dengan Dhani. Dan untuk anak-anak, Maia berkomitmen kalau perceraian tidak akan mengurangi kasih sayang dan perhatiannya.
Al, El, dan Dul sendiri sepertinya semakin paham dengan fakta pahit hubungan kedua orang tua mereka. Ungkapan kasih sayang diucapkan ketiganya saat Maia merayakan ulang tahun yang ke-32 pada 27 Januari silam. “Bunda tak akan tergantikan oleh siapapun,” ungkap Al, El, dan Dul yang lalu disambut Maia dengan perasaan haru.
Seperti diketahui, Keputusan Majelis Hakim Pengadilan Agama Jakarta Selatan telah mengabul permohonan gugatan cerai Maia pada 23 September lalu. Salah satu butir putusan itu adalah memberikan hak asuh anak kepada Maia. Namun, perempuan kelahiran Surabaya itu belum bisa bernafas lega. Pasalnya, Dhani mengajukan banding yang membuat status keduanya kembali seperti saat Maia mengajukan gugatan cerai ke PA Jaksel. Artinya, secara hukum agama Maia masih istri sah Dhani, namun secara fakta keduanya sudah menentukan jalan hidup masing- masing dengan tak tinggal seatap lagi.
“Al, El, dan Dul, merupakan PR (Pekerjaan Rumah) yang harus aku selesaikan di dunia ini, walaupun sampai detik ini mereka belum berada dalam pelukanku, tetapi sebagai ibu yang dipercaya, maka tugasku adalah mendoakan mereka agar bisa menjadi manusia yang sholeh, cerdas, pintar, tegar, kuat, bernasib baik, serta berhati karim. Ini adalah doa yang selalu kupanjatkan untuk anak-anakku walaupun mereka jauh dari aku,” tulis Maia di blog pribadinya belum lama ini. “Aku percaya bahwa Surga ada di telapak kaki ibu, maka aku tidak akan pernah takut kehilangan buah hatiku. Ketika suatu saat Allah menakdirkan aku harus bersama mereka, maka mereka pasti akan bertemu aku nanti, apapun dan bagaimanapun jalannya,” tuturnya, sambil mengusap air mata yang meleleh di pipinya.
Ketidakharmonisan Ortu Terekam Memori Anak-anak
HUBUNGAN memburuk Maia Estianty dan Ahmad Dhani mau tak mau memang menyeret putra-putranya dalam kemelut. Tentu masih segar dalam ingatan, betapa Maia marah besar lantaran salah satu putranya dibiarkan saja membolos sekolah oleh Dhani. Sebagai ibu yang baik, dia tak terima sekolah anak-anaknya terlantar di tangan pengasuhan Dhani yang juga bos grup musik Dewa 19 itu.
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pun sampai turun tangan dengan gayanya yang berusaha tetap bersikap netral. Akhirnya permasalahan itu diselesaikan lewat mediasi dengan bantuan Ketua KPAI yang saat itu dijabat Giwo Rubianto Wiyogo. Ketua KPAI Giwo Rubianto Wiyogo mengatakan, setelah melalui proses perundingan, Maia-Dhani sepakat untuk berdamai. Hal itu terwujud dengan didasari keinginan agar anak-anak mereka tidak terkena imbas dari proses gugatan cerai.
“Pada intinya ini masalah komunikasi. Kasih sayang ibu dan kasih sayang ayah sepertinya mau mengambil porsi yang sama,” ungkap Giwo. Soal anak yang tengah berada dalam situasi ambang perceraian kedua orang tuanya, Giwo mendukung sikap dan keinginan Maia-Dhani yang tidak mau anak-anak ikut tertekan. Katanya, anak-anak termasuk pihak yang rentan dengan ketidakharmonisan kedua orang tuanya.
“Peristiwa buruk yang mereka (anak-anak) lihat bisa terekam dalam memorinya. Dan itu berdampak tidak baik untuk anak. Karena itu KPAI akan berusaha sebaik mungkin untuk anak- anak yang tengah berada dalam situasi pahit seperti ini,” tegasnya. (abs)
Maia Menjaga Kedekatan Anak
Mendampingi di Lomba Masak Nasi Goreng
BIARPUN antara dirinya dan Ahmad Dhani sudah tak tinggal seatap lagi, namun Maia tetap berusaha dekat dengan ketiga putranya, agar kenyamanan mereka tak berkurang di tengah prahara rumah tangga orang tuanya.
Maia tidak segan-segan meluangkan waktu untuk berada di samping Al, El, dan Dul. Menurutnya, waktu-waktu bersama Al, El, dan Dul merupakan momen paling berharga dalam hidup. Misalnya ketika Maia mendampingi Al, El, dan Dul di hari orang tua yang diselenggarakan sekolah mereka. Walau baru istirahat selama kurang lebih empat jam, Maia dengan semangat menjemput Al, El, dan Dul lalu membawa mereka ke sekolah.
“Walau masih ngantuk berat, aku harus semangat karena hari ini aku bareng anak-anaku bakal seru-seruan ikutan berbagai lomba dan kegiatan bersama,” tulis Maia di blog pribadinya.
Kegiatan hari orang tua waktu itu terpaksa tidak diikuti Al yang sedang tidak enak badan. Padahal, kata Maia, Al yang paling gembira saat menanti lomba bersama ibunya. “Aku juga sedih karena setelah puppet show (pertunjukan boneka), Dul harus pulang dijemput ayahnya. Jadi nggak sempat seru-seruan bareng Dul. Untungnya ada Al dan El sempat ikutan lomba masak nasi goreng,” tuturnya. “Walau hasilnya nggak sempat dinilai juri karena El udah nggak tahan ‘ngeludesin’ nasi goreng buatan bundanya,” tambah Maia.
Dengan sedikit kegembiraan yang dirasakan bersama anak-anaknya, Maia berharap kejadian itu bisa terulang di Hari Orang Tua berikutnya. “Seru..seru..seru.. sumpah seru banget, rasa ngantuk, panas keringat tidak berasa sama sekali. I’m so enjoying the moment (Saya sangat menikmati moment ini). Next parents day (hari orang tua berikutnya) mudah-mudahan Al dan Dul bisa seru-seruan sama bundanya kaya El,” tegasnya.
Dampak Perceraian
Anak Takut Menikah dan Sulit Bersosialisasi

PERTENGAKARAN kedua orangtua yang disaksikan oleh anak ataupun peristiwa perceraian yang dialami orangtua, memang bisa membekas secara mendalam pada ingatan anak-anak. Dampaknya, mungkin anak jadi pendiam, tak banyak minatnya untuk beraktifitas, jadi gampang marah, ada rasa takut jika melihat pertengkaran orangtuanya kembali terulang, dan sebagainya.
Di usia menjelang remaja, mereka berpotensi mengalami hambatan dalam hubungan pertemanan dengan lawan jenisnya. Mungkin anak akan menolak pertemanan yang lebih dari seorang sahabat, sulit mencintai orang lain. Akibat perceraian orang tua, anak-anak di masa dewasanya bisa mengalami phobia berupa takut pernikahan. Mereka dihantui kekhawatiran bakal bercerai seperti dialami kedua orang tuanya.
Agar potensi buruk tersebut tak terjadi, maka orang tua yang terpaksa bercerai dengan pasangannya, sama-sama berkewajiban mencegah dampak-dampak buruk tersebut dengan cara:
1. Orangtua harus menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada anak-anak atas langkah perceraian yang terpaksa mereka tempuh. Berikan penjelasan yang menyejukkan.
2. Tidak lagi melakukan pertengkaran di depan anak.
3. Tetap menjaga hubungan baik dengan pasangan. Rencanakan kembali bersama pasangan tentang apa saja yang akan dilakukan untuk kebaikan pertumbuhan psikologis anak-anak. Ingatlah bahwa istilah mantan istri atua mantan suami itu memang ada, tapi tidak akan pernah ada yang namanya ‘mantan anak.’
4. Lakukan aktivitas kebersamaan dengan anak seperti main bola bersama, outbound, berkemah, dan sebagainya.
5. Saat anak merasa rilaks dengan kedua orangtuanya, bangunlah komunikasi dengan baik. Lakukan terus-menerus. (*)
Risiko Dibesarkan Tanpa Figur Ayah
SEORANG anak seyogyanya dibesarkan dalam sebuah keluarga utuh yang terdiri dari ayah dan ibu. Namun untuk keadaan tertentu, terkadang anak terpaksa tumbuh dan besar tanpa figur seorang ayah atau ibu. Dalam kondisi tersebut, peran single parent atau orangtua tunggal tentu mempengaruhi perkembangan psikologis anak.
Psikolog dari Universitas Indonesia, Lifina Dewi, M.PSi, mengatakan dampak psikologis dari peran orang tua tunggal mungkin tidak terlalu terlihat pada anak yang memiliki sifat tegar atau cuek. Akan tetapi, untuk anak yang bersifat sensitif, hal itu jelas-jelas akan berdampak besar.
“Setelah remaja atau dewasa, anak-anak ini mungkin saja tumbuh menjadi anak yang permisif, tertutup, pemalu atau justru agresif sekali pada lawan jenis,” ungkap Lifina.
Dijelaskan Lifina, untuk anak yang hanya dibesarkan sang ibu dibutuhkan kesiapan khusus. Sebagai orang tua tunggal, ibu harus tahu bagaimana dia bersikap dalam membesarkan anaknya. Lifina menilai ketidaksiapan akan membuat ibu cenderung menyalahkan anak dan tentunya memberikan pengaruh cukup besar untuk perkembangan anak.
Lifina menuturkan, menjadi orangtua tunggal membuat ibu juga harus siap menjadi tulang punggung keluarga. Tak jarang, lanjutnya, karena ingin memenuhi kebutuhan finansial, seorang ibu bekerja terlalu keras sehingga tidak punya waktu lagi untuk anak-anaknya.
Selain itu, lambat laun anak yang hanya dibesarkan seorang ibu akan menanyakan tentang ayahnya. Jika perpisahan terjadi karena sang ayah meninggal dunia, masalah ini dapat dengan mudah diatasi. Namun, ketika keadaannya berbeda, ibu harus memiliki jawaban yang tepat untuk anaknya. “Untuk menjawab pertanyaan si anak tentang asal-usulnya, sebaiknya si ibu menyesuaikan dengan usia si anak untuk mencerna,” ungkap Lifina.
Sementara itu, Astuty Liestianingrum, pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Apik, mengatakan banyak perempuan, yang terlibat kasus perceraian, kurang paham tentang hak- haknya. Hal itu dilihat dari sekian banyak kasus yang diterima LBH Apik. “Sebagian besar dari mereka tahu bahwa mereka mempunyai hak atas anak dan pembagian harta. Namun, bagaimana aturannya mereka tidak tahu sehingga sering kali dikalahkan,” kata Lies.
Disebutkan Lies, peristiwa yang paling sering terjadi adalah istri tidak mendapat hak pengasuhan anak karena dia tidak bekerja sehingga dianggap tidak mampu secara ekonomi. Namun ada juga istri yang bekerja pun belum tentu mendapat hak pengasuhan itu. Dia harus mencari uang sepanjang hari sehingga tidak punya waktu untuk mengurus anak. “Ini sering sekali terjadi. Padahal, dalam hukum dikatakan, anak di bawah usia 12 tahun berada di bawah pengasuhan ibu. Namun, karena sang istri tidak tahu ada aturan ini, dia sering dikalahkan,” tegasnya. Perempuan, menurut Lies, harus berani bertindak untuk memperjuangkan hidupnya. Biarpun pengadilan sudah memutuskan bahwa suami harus memberikan nafkah bagi bekas istrinya, namun keputusan itu belum tentu dilaksanakan. Sulitnya lagi, tidak ada undang-undang yang bisa menjatuhkan sanksi pidana bagi laki-laki yang tidak menjalani keputusan itu. “Sebaiknya, sebelum menikah dibuat perjanjian harta. Harta yang dikumpulkannya sebelum menikah, setidaknya bisa dijadikan modal usaha jika terjadi perceraian kelak,” imbuh Lies.


hi. . .
q nag dr kluarga broken home,mamahku menikh lg,n papahku juga. . .
skrang mamahku bakal cerai ma ayah tiriku,q pucink,frustasi,tu yg q rsin. . .
q smpat brfkir,pa lbh baek q mati?tp q mch tkut pd tuhan,
kdang q ga bs tdur,insomnia kali ya. . .
q sllu nngs kalau mnjalng tdur,
mnurutq akbt dr perceraian ortu ga smudah bs dcgah atau dhilangkan begitu saja. .
Berpisah sejak umur 1 tahun dari Ibu tak lama kami diasuh pihak kedua hingga sd kelas 3 kemudia diasuh lagi pihak ketiga hingga hijrah ke kota satuu hingga ke kota lain… disatu sisi saya sangat bersyukur dapat berkair yang bisa menopang masa depan kami bersama keluarga… namun ada sesuatu yang menjadi ganjalan saya sulit bergaul/bersosialisai yang selalu terbawa hingga sekarang dan berdapak pada hubungan saudara dan kerabat yang kurang hangat dan keharmonisan….