Random header image... Refresh for more!

Sukses Jualan Boneka Lewat Internet!

Boneka Salma, Dari Depok Mendunia

SEBUAH produk kerajinan Boneka Salma dari Depok yang dikelola wanita cantik bernama Sukmawati Suryaman berhasil menembus pasaran internasional, khususnya Jerman, Bangladesh, Malaysia, Inggris dan Amerika. Omzetnya mencapai belasan juta

rupiah perbulan.

Yang  menarik, untuk pasaran internasional, Sukmawati memasarkan lewat situs internet www.bonekasalma.com. Sementara di dalam negeri, boneka mungil yang didandani aneka model busana muslim itu dipasarkan langsung ke toko-toko buku Islam, jaringan toko buku Gunung Agung, dan sejumlah toko lainnya.

Omzet penjualannya pernah mencapai angka tertinggi Rp 20 juta perbulan. Paling sepi, dia bisa mencetak penjualan minimal Rp 5 juta perbulan. Lumayan kan, untuk ukuran usaha sampingan rumahan? “Kalau kondisi sekarang, rata-rata omzetnya kira-kira Rp 8,5 juta perbulan,” tutur Sukmawati Suryaman seperti dikutip dari buku “10 Pengusaha UKM Penggugah Inspirasi” karya Agung Budi Santoso, Rosalia Wening dan Ade Irwanto.

Biarpun omzetnya belum terlalu besar, namun ibu beranak satu ini optimis usahanya akan terus berkembang mengingat adanya tren peningkatan kesadaran kaum wanita muslim dalam mengenakan busana muslimah secara permanen.

Apalagi untuk pasaran dalam negeri, pemasaran Boneka Salma sudah menjangkau semua propinsi, kecuali Papua. Dari berbagai ajang pameran, terbukti produk kerajinan Boneka Salma-nya sering menyedot perhatian. Setelah mengikuti ajang pameran, biasanya diikuti pemesanan, baik lewat telepon maupun email. “Kalau di pameran-pameran, yang paling laris dan menyedot perhatian adalah boneka dengan busana gaun malam,” tuturnya.

Yang membuatnya rada heran, pemesan boneka dari luar negeri kebanyakan datang dari negeri-negeri yang justru penduduknya mayoritas non muslim.  Lulusan S-2 Teknik Elektro Universitas Gajah Mada (UGM) yang juga pernah mengajar di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta itu awalnya merintis bisnis roti merek Salim.

Belakangan ia banting setir demi membesarkan bisnis boneka berpakaian muslimah yang diberi nama Salma. Ia pun hijrah ke Depok karena mengikuti suaminya yang berganti pekerjaan dan mengharuskan mereka berpindah tempat tinggal.

Tanpa diduga, ternyata banyak konsumen yang menggemari boneka berbusana muslimah dengan desain yang beragam tersebut. “Sebenarnya tak mudah menggeluti usaha ini. Butuh kesabaran dan ketelatenan tinggi membuat baju boneka ukuran mini ini. Belum lagi capeknya mikir pemasaran. Tapi kalau mengingat kelangsungan hidup para karyawan, saya bertekad terus menghidupkan usaha ini,” tutur istri Andi Prayitno.

Susahnya Mencari Penjahit

Sukmawati sebenarnya memendam obsesi untuk melakukan ekspansi usaha dengan melibatkan lebih banyak karyawan, khususnya ibu-ibu rumah tangga dari keluarga miskin. Namun usaha rumahan ini ternyata bukannya tanpa kendala.

“Problem utamanya adalah mencari karyawan yang benar-benar pintar menjahit dengan penuh kesabaran, dan ini sangatlah tidak mudah. Sulit banget menemukan karyawan yang betul?betul telaten menggarap pekerjaan detail ini,” ujar ibu seorang putri bernama Alya Kayyisah Mazaya.

Sebenarnya tak heran jika Sukmawati membutuhkan karyawan yang telaten mengingat pakaian?pakaian yang dikenakan pada bonekanya selalu dibuat dengan detail unik yang membutuhkan ketelitian tinggi. “Kalau memotong kain untuk ukuran baju dewasa itu, meleset sedikit saja nggak kelihatan. Tapi kalau untuk boneka mini seperti ini, keliru sedikit saja motong kainnya, itu kelihatan banget jeleknya,” ujar Sukmawati seperti dikutip buku “10 Pengusaha Pengusaha UKM Penggugah Inspirasi” karya Agung Budi Santoso, Rosalia Wening dan Ade Irwanto itu. (agung budi)

Dia memberi contoh lain, jenis kain yang digunakan untuk baju-bajunya bonekanya rata-rata licin, jadi agak susah digunting. Mengguntingnya pun harus dengan kesabaran tinggi. Awalnya dia mempekerjakan satu orang, lama-lama bertambah jadi enam orang khususnya saat terjadi lonjakan  permintaan. Namun begitu BBM naik, omzetnya sedikit turun. Kondisi ini diikuti pengurangan karyawan yang kini tinggal 3 orang.

Wanita ayu ini bertutur, dia sendiri yang bertugas mendesain berbagai motif busana Boneka Salma-nya, sementara karyawan bertugas menjahit. Maunya Sukma, dia harusnya sudah tak lagi terjun untuk urusan teknis, seperti menjahit dan memotong-motong kain. “Tapi faktanya, saya masih harus sering turun tangan mengingat tingginya tingkat kesulitan, baik saat memotong maupun menjahit,” katanya.

Untuk menghindari kebosanan konsumen, Sukma terus mencari inspirasi model-model baru busana bonekanya yang sering dijuluki The Moslem Barbie Doll oleh orang-orang bule itu. Ibu muda ini bahkan menerima permintaan dari calon pembeli yang menyodorkan desain dan motif sesuai selera mereka.

Kesulitan lainnya adalah pada lini pemasaran. Toko-toko buku maunya pakai sistem konsinyasi. Dengan kata lain, pihaknya dipersilakan memajang boneka dalam tempo tertentu, lantas bila laku pemilik toko diberi bagian persentase keuntungan tertentu. Tapi karena Sukmawati membutuhkan modalnya terus berputar, dia maunya sistem beli putus. “Susah banget toko yang mau beli putus,” ujarnya. Untunglah untuk urusan bahan baku, Sukmawati tak merasa kesulitan mendapatkannya.

Ia hanya perlu membuat rancangan (desain), lalu dilanjutkan dengan pembuatan pola yang dicetak pada kain yang telah dipilih sebelumnya. Lalu dilanjutkan dengan proses pengguntingan dan penjahitan. Sedangkan produk bonekanya, Sukmawati membelinya dari impor. “Bonekanya masih dalam bentuk telanjang, bikinan China,” katanya.

Awalnya hanya 12 variasi model, kini telah berkembang menjadi ratusan model busana muslimah. Antara lain Boneka Salma dengan busana muslimah bergaya kasual, gaun resmi, mukena, hingga yang bergaya tradisional. Menurut Sukmawati, seluruh keluarga besarnya turut memberi sumbangan ide pakaian yang tentu saja diterimanya dengan senang sebagai salah satu bentuk dukungan bagi usahanya. “Kalau kehabisan ide, saya buka-buka majalah dan browsing internet,” tuturnya.

Wanita berperangai kalem ini secara jujur menyebut skala usahanya masih belum maksimal. “Dari usaha ini saya belajar arti pentingnya hubungan baik, kedewasaan berpikir, kesabaran, dan hikmah penting lainnya,” ujarnya. Demi bisnis boneka muslim cantiknya itu, Sukmawati sampai rela memutuskan berhenti dari pekerjaan sebagai dosen  di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Ia lantas menyeriusi bisnis ini dengan belajar membuat desain baju boneka muslim tradisional dan busana rumahan sehari?hari secara otodidak lewat majalah dan televisi.

Produknya mencapai puncak laris-larisnya ketika harga BBM belum dinaikkan (bensin masih seharga Rp 2.400 perliter). Saat itu, produksi dan penjualan bonekanya mencapai 250-an buah perbulan dengan omzet Rp 20 juta. Namun begitu BBM naik menjadi Rp 6.000 perliter bensin, omzetnya memang agak menurun lantaran biaya pengiriman yang ikut membengkak. “Tapi demi karyawan yang menggantungkan hidup dari usaha ini, saya bertekad untuk mempertahankan dan mengembangkan usaha ini,” kata wanita kalem tapi gigih itu. Demi mempercepat layanan terhadap pembeli, Sukma mengirim Boneka Salma pesanan pembeli lewat jasa titipan kilat. “Kalau pembelinya di luar negeri, saya pakai jasa pos, biar menghemat biaya kirim,” tandasnya.(agung budi)

Yang Bermotif Tradisional Lebih Mahal

Tentu Anda penasaran, berapa harga Boneka Salma bikinan Sukmawati dan karyawannya? Ternyata untuk Boneka Salma berbusana muslim dengan gaya tradisional harganya lebih mahal yakni Rp 75.000 perboneka. Sedangkan yang berdesain modern atau masa kini, harganya justru lebih murah yakni Rp 60.000 perboneka. Lo, kok beda? “Yang motif tradisional harganya lebih mahal karena butuh ketelitian dan ketelatenan tinggi. Emang lebih susah bikinnya,” ujarnya.

Dengan omzet penjualan naik turun antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta perbulan, Sukmawati memperoleh keuntungan bersih sekitar 20 persen dari omzet penjualan. Berapa kira-kira keuntungan bersih dari tiap penjualan satu bonekanya? Wanita bergelar S-2 magister teknik tidak menyebut angka persis. Namun sebagai gambaran, dia bersedia merinci komponen biaya produksi tiap satu boneka.

Menurutnya, untuk membeli bahan baku per satu boneka telanjang (belum dikenakan busana) itu harganya Rp 10 ribu - 12 ribu. Di luar biaya beli boneka, keluar ongkos biaya produksi Rp 30 ribu per bonekanya. Angka sebesar itu antara lain untuk biaya pembelian kemasan (kotak karton persegi panjang), biaya bahan kain, ongkos menjahit, biaya untuk membeli pernik-pernik aksesoris serta ongkos kirim.

Pendek kata, tiap memproduksi satu boneka, membutuhkan biaya bahan baku dan biaya proses produksi total Rp 40 ribuan.. Kalau harga bonekanya Rp 60 ribu hingga 75 ribuan, berarti untungnya tiap penjualan satu boneka Rp 20 ribu hingga 35 ribu  dong? “Hmm, gimana ya? Mungkin segitu. Saya sih nggak menghitung secara mendetil berapa keuntungannya. Tapi perkiraan saya, dari total omzet itu untungnya 20 persenan,” timpalnya.
(agung budi)


Alamat ‘Boneka Salma’

Ibu Sukmawati Suryaman
Perum Sawangan Permai,  Jl. Garuda VI Blok D2 No.6 Sawangan Depok Jabar Telp. (021) 930. 6584. Email bonekasalma@gmail.com
dan website www.bonekasalma.com,  HP:  0815 20 300 911

3 Responses to “Sukses Jualan Boneka Lewat Internet!”

  1. cewe cowo pake donk Busana Muslim !

  2. ass.
    cantik banget boneka salmanya….tapi didaerah cilacap kok belum ada ya???anak2 cilacap mau juga loh bersahabat dengan salma….kalau mw jadi reseller boleh?
    waslm…

  3. mbak… ada boneka dengan busana tradisional ga..???

Leave a Reply