Random header image... Refresh for more!

Popok Bayi Pakai Ulang, Why Not?

SANDRINA Malakiano punya cerita unik tentang popok bayi. Ternyata popok bayi yang pernah dipakai putrinya, Keysha Alea, adalah popok bayi bekas dia saat masih balita, lebih dari 35 tahun silam. Artinya, popok bayi itu dipakai turun temurun dari sang ibu ke anaknya.

“Praktis, popok bayi yang dipakai anakku itu umurnya sama dengan umurku, yakni 37 tahun. Sebelum saya melahirkan anak yang pertama, ibu memberikannya berikut perangkat-perangkat bayi yang dulu pernah dipakai saat saya masih balita, ” ujar Sandrina Malakiano saat ditemui di kediaman pribadinya di Jalan Metro Alam X, Pondok Indah, Jakarta Selatan, baru-baru ini.

Yang menarik, popok kain buatan Italia yang itu rencananya bakal terus dia wariskan dari generasi ke generasi berikut di lingkup keluarganya. “Popok ini juga akan saya wariskan kepada anak-anak saya kalau mereka nanti sudah berkeluarga dan punya anak juga,” tambah perempuan kelahiran Bangkok 24 November 1971 yang kini bersuamikan pengamat politik kondang Eep Syaifullah Fatah.

Popok yang dimaksud Sandrina adalah popok kain tanpa merk yang dibeli ibunya di Italia. Popok itu terbuat dari bahan katun dengan panjang kurang lebih satu meter. Sandrina menaruh kepercayaannya pada popok ini berkat kemampuannya menyerap dan kelembutannya untuk kulit bayi. Itu pula yang dirasakan Sandrina ketika dulu dia masih bayi. Biar usia popok tersebut sudah tua, namun Sandrina melihat kondisinya masih bagus. Tak terlihat bagian-bagian yang robek, cuma warnanya saja yang sedikit memudar, ‘dimakan’ usia.

Ibu tiga anak ini menuturkan, popok kain berbahan katun juga banyak dijual di Indonesia. Namun, popok-popok itu kualitasnya berbeda jauh dengan popok kain yang pernah dipakainya. “Kalau popok kain lainnya itu bahannya tipis banget. Akibatnya, kalau bayi ngompol itu akan langsung basah,” ujar wanita berhidung mancung itu.

“Kalau popok yang saya gunakan itu berbeda. Selain bahannya yang tebal, cara pemakaiannya yang unik juga membuat popok ini tidak langsung basah seperti popok kain yang lain,” lanjut Sandrina. Untuk memasangkan popok pada bayinya, popok kain harus terlebih dahulu dilipat menjadi dua bagian. Selain itu, Sandrina juga membuat lipatan lainnya sehingga popok tersebut nyaman dipakai.

Teknik memasangkan popok dipelajarinya dari sang ibu. Wanita yang pernah merebut predikat Presenter Berita Terbaik Kedua di ajang Asian Television Awards 2002 itu juga langsung terjun sendiri dalam memasang dan mengganti popok kedua anaknya.

“Saya dan suami tidak memakai jasa baby sitter. Jadi semua yang berhubungan dengan mengurus anak, termasuk mengganti popok, kita lakukan berdua,” tegasnya.
Jika Sandrina mahir dalam memasang dan menggantikan popok, Eep kebagian tugas untuk membersihkannya. Untuk urusan yang satu ini, Sandrina memuji suami yang dinikahinya pada 6 Mei 2005 silam

“Dia cukup mahir untuk urusan membersihkan. Jadi ketika popok itu bersimbah kotoran, seperti halnya popok kain lainnya, itu bisa dicuci dan bisa dipakai lagi. Karena itu pula saya bisa memperoleh popok warisan ini dari ibu saya,” imbuh mantan istri penyiar radio Rico Ceper itu. (mun)


Kelebihan Popok Kain

Bisa Ngirit, Lebih Sehat Lagi!

DI era yang serba instan, penggunaan popok kain dinilai telah ketinggalan jaman. Banyak ibu lebih memilih popok sekali pakai, atau dikenal dengan sebutan diapers atau bisa disingkat pospak. Alasannya diapers atau pospak memberikan banyak keuntungan dibandingkan popok kain. Yang utama, diapers mempermudah tugas seorang ibu, karena habis pakai popok langsung buang aja ke tempat sampah. Tapi cara ini jelas boros.

Sementara kalau popok kain, selain bisa dicuci dan dipakai berulang-ulang, juga lebih aman daripada diapers. Selain lebih aman, karena tidak menimbulkan efek samping seperti ruam popok dan sebagainya, popok jenis ini juga memberikan kenyamanan dan kemudahan menyesuaikan dengan kondisi kulit bayi. Alasan itu pula yang membuat sejumlah orangtua masih mempertahankan tradisi lama popok kain.

Di samping itu, penggunaan popok kain dipercaya memberikan dampak psikologis yang lebih baik kepada si bayi. Kepedulian serta kepekaan terhadap lingkungan adalah satu tujuan dari penggunaan popok ini. Artinya, budaya popok kain mengurangi produksi sampah popok instan sekali pakai. Penggunaan popok kain juga bisa membina kemandirian anak ketika memasuki usia balita. Anak akan terbiasa untuk buang air kecil ke kamar mandi. Sementara itu, penggunaan diapers membuat anak terkadang tidak peduli walaupun mereka sudah buang air kecil.

Pakar anak dari Klinik Kid’s World, Kramat Batu, Jakarta Selatan, dr HMV Ghazali atau akrab disapa Vinci, membenarkan bahwa penggunaan diapers lebih praktis daripada popok kain. Namun, penggunaan diapers harus diiringi dengan kehati-hatian dari orangtua. Kalau tak hati-hati, kulit bayi bisa teriritasi.

“Memang, popok sekali pakai amat mempermudah pekerjaan ibu. Minimal, tak perlu mencuci atau mengganti popok kain setiap kali si kecil pipis. Selain ibu tak perlu bangun malam, anak juga bisa tidur lebih lelap di malam hari karena tak terganggu. Kalau pakai popok kain, tiap kencing, kan, harus diganti,” imbuh Vinci.

Ditambahkannya, dari berbagai merk, harga, dan jenis diapers yang ada di pasar, orangtua harus memegang satu prinsip saat memilih menggunakan diapers untuk bayinya. Kebersihan adalah yang terpenting dari beragam diapers yang ditawarkan.

“Yang sering terjadi, para ibu merasa yakin, pakai diaper pasti bayinya bersih terus. Padahal, kalau popok sekali pakai itu sudah penuh (bayi kencing berulang-ulang), daerah di sekitarnya jadi lembab dan bisa menimbulkan iritasi pada kulit anak. Selain itu, rekatan yang rapat dari diaper, bisa saja membuat kulit jadi tak bisa bernapas,” jelasnya.

Vinci menyebutkan, iritasi akibat diapers bisa dilihat dari gejala awal yang dialami bayi. Gejala awal itu terlihat dari kulit yang kemerahan. Bahkan bisa menjadi radang kulit (dermatitis). Yang lebih parah, jika bagian anus kena iritasi, maka akan cepat menyebar ke alat kelamin dan lipatan pangkal paha. Akibatnya, terjadi infeksi sekunder di kedua daerah tersebut. Bayi pun menjadi rewel karena ia merasa kulitnya gatal, perih, dan panas.

Kasus yang paling sering terjadi, lanjut Vinci, adalah warna kemerahan di sekitar daerah yang langsung berhubungan dengan diaper, yaitu anus, alat kelamin, serta lipatan pangkal paha. Meski demikian, Vinci mengaku jarang menemukan kasus iritasi kulit pada bayi, khususnya akibat diapers, yang sampai pada infeksi sekunder. Jadi, apakah anda akan lebih memilih popok kain atau diapers?


Jeleknya Popok Sekali Pakai

Bikin Boros, Rawan Iritasi

DALAM penggunaan diapers, pakar anak dari Klinik Kid’s World, Kramat Batu, Jakarta Selatan, dr HMV Ghazali atau akrab disapa Vinci, menekankan orangtua untuk memperhatikan kebersihan. Diapers yang sudah dipenuhi air kencing harus segera diganti. Soal berapa sering diaper harus diganti, Vinci mengatakan hal itu tergantung dari frekuensi buang air kecil atau besar bayi.

“Di tempat panas, misalnya, bayi cenderung lebih banyak berkeringat dan air seninya berkurang. Di tempat dingin atau ber-AC, pipisnya yang lebih banyak. Faktor lain adalah banyak atau sedikitnya bayi minum. Makin banyak minum, otomatis pipisnya lebih banyak. Selain itu, bayi yang sudah diberi makanan padat, frekuensi buang air kecilnya akan lebih jarang dibanding yang hanya menyusui,” tutur Vinci.

Dengan memperhatikan frekuensi tersebut, orangtua bisa menentukan berapa banyak diapers yang diperlukan setiap harinya. Hal ini tentu saja berkenaan dengan uang yang harus dikeluarkan untuk membeli diapers tersebut. Hitung saja, kalau sehari si kecil perlu 5-6 diaper, misalnya, berapa uang yang mesti dikeluarkan dalam sebulan? Cari diaper yang murah? Ini bukan solusi yang baik juga. Soalnya, biasanya kalau murah, mutunya rendah. Akhirnya, anak lebih gampang kena iritasi atau alergi sehingga harus berobat ke dokter. Malah lebih boros, jadinya.

Popok sekali boleh-boleh saja, misalnya untuk kondisi dalam perjalanan. “Tapi jangan lupa dikontrol. Kalau sudah penuh pipis, ganti. Ya, berkorban sedikit, deh, daripada si kecil terkena iritasi. Malah repot, kan?” imbuhnya.


Mencegah Iritasi

Penuh Pipis, Segera Diganti Dong..! RUAM popok atau atau iritasi akibat popok, adalah gangguan yang lazim ditemukan pada bayi. Gangguan ini banyak menimpa bayi berumur kurang dari 15 bulan, terutama pada kisaran usia 8 - 10 bulan. Gejalanya antara lain ruam kemerahan atau lecet pada kulit di daerah yang ditutupi popok. Selain itu, bayi biasanya terlihat rewel, terutama saat penggantian popok. Bayi juga mungkin menangis saat kulit di daerah yang ditutupi popok dicuci atau disentuh.

Untuk mencegah ruam popok, beberapa tindakan berikut mungkin membantu :
1. Sering-seringlah mengganti popok. Jangan biarkan popok yang sudah basah karena menampung banyak urin berlama-lama dipakai bayi. Kontak yang lama antara urin atau tinja dengan kulit bayi dapat menimbulkan ruam popok.
2. Saat membersihkan bayi, tepuk daerah yang biasa ditutupi popok (bokong, paha, selangkangan, dan daerah genital bayi) secara perlahan dengan handuk bersih. Usahakan menghindari menggosok-gosok dengan keras daerah tersebut.
3. Sesekali biarkan bokong bayi terbuka (tidak memasang popok) selama beberapa saat. Tindakan ini mungkin berguna menjaga daerah popok tetap kering dan bersih.
4. Hati-hati dalam memilih popok, karena beberapa jenis bahan popok dapat merangsang ruam popok. Jika hal itu terjadi, gantilah popok merk lain yang lebih cocok.
5. Jika bayi anda memakai popok kain yang digunakan berulang kali, cucilah popok kain tersebut dengan deterjen yang formulanya tidak terlalu keras. Hindari memakai pelembut, karena pewangi dalam pelembut tersebut dapat mengiritasi kulit bayi. Pastikan untuk membilas popok dengan baik agar deterjen tidak tertinggal di dalam popok.
6. Hindari memasang popok terlalu kuat. Usahakan ada ruang antara popok dengan kulit bayi.

Kiat Praktis Pilih Popok
DI pasaran, kita bakal banyak menemukan berbagai macam popok bayi. Mulai dari merk terkenal hingga buatan lokal, mulai yang harganya mahal hingga bisa terjangkau menengah ke bawah. Ada pula popok yang terbuat dari kain, kertas dan kapas.

Beraneka macam pilihan yang disodorkan pada kita, membuat kita harus cermat untuk mempertimbangkan kelebihan dan keuntungan popok yang akan kita beli. Di pasaran setidaknya ada tiga jenis yaitu popok sekali pakai atau diapers, popok kain, dan popok dipakai berulang kali. Berikut kelebihan dan kekurangan masing-masing jenis popok tersebut :


* Popok sekali pakai atau diapers

Kelebihan : Nyaman, tidak perlu dicuci dan dikeringkan, dapat dibeli sedikit-sedikit, tak perlu menggunakan celana plastik atau peniti bayi, praktis untuk bepergian, ada yang ekstra tipis, hingga mudah dipakai dan bayi tampak rapi, kita dapat memilih sesuai dengan ukuran bayi dan berat bayi.

Kekurangan : kita perlu mencoba beberapa merk sebelum menemukan yang cocok, harganya cukup mahal, popok berisi kotoran bayi dapat menimbulkan masalah sampah dan mungkin akan mencemari lingkungan dan air.

* Popok kain

Kelebihan : ramah lingkungan meskipun menggunakan bahan-bahan khusus untuk mencuci dan mengeringkannya, ekonomis karena dapat disimpan untuk adiknya kelak, lebih lembut bagi kulit bayi dibandingkan dengan pampers.

Kekurangannya : harus sedia dalam jumlah yang cukup banyak (minimal 24 buah), popok harus selalu steril, perlu jemuran khusus, peniti dan celana plastik.

* Popok berulangkali pakai

Kelebihan : ramah lingkungan, tidak terlalu tebal, tak perlu dilipat, karena ada perekatnya, dan juga tidak perlu peniti. Dapat disimpan untuk anak berikutnya.

Kekurangan : harganya mahal, paling tidak perlu 15 buah, dan mencoba berbagai merk sebelum mendapatkan yang cocok. Daya serapnya paling sedikit, perlu disterilkan dan dikeringkan, serta perlu tali jemuran dan celana plastik karena bila lembab akan menimbulkan ruam.

Sesuaikan Dengan Kondisi Kulit Bayi

BILA belum menemukan diaper yang cocok untuk si kecil atau belum pernah membeli, sejumlah tips berikut mungkin bisa membantu Anda. Jangan membeli dalam jumlah banyak pada satu kali pembelian. Soalnya, kalau tak cocok (bayi alergi dengan bahan diaper) jadi tidak terbuang percuma alias mubazir. Berikut beberapa tips sebelum Anda membeli diapers :

* Cari informasi dari teman atau kerabat yang lebih berpengalaman. Tak ada salahnya mencoba membeli produk yang disarankan tapi beli dalam jumlah sedikit dulu.

* Boleh juga membeli beberapa jenis sekaligus (tetap dalam jumlah sedikit) sehingga kita bisa membandingkan dan akhirnya menentukan, mana yang terbaik untuk si kecil.

* Perhatikan ukuran. Jangan sampai kebesaran atau kekecilan, karena ukuran menentukan kenyamanannya. Biasanya dalam tiap kemasan ditulis ukuran (S, M, L, XL), dilengkapi dengan berat badan anak. Misalnya, ukuran S untuk berat 3-5 kg. Biasanya, makin besar ukuran, makin mahal harganya.

* Jangan mudah tergoda bujukan dan rayuan iklan. Apalagi jika Anda sudah menemukan produk yang cocok untuk si bayi.

* Meski sudah sreg dengan satu produk tertentu, tak perlu “menimbun” banyak-banyak karena pertumbuhan bayi amat pesat. Bisa saja bulan berikut berat si kecil bertambah sehingga diaper-nya pun harus diganti dengan ukuran yang lebih besar.

7 Responses to “Popok Bayi Pakai Ulang, Why Not?”

  1. anak2ku malah pake pampres isi ulang……….

  2. saya dari dulu sangat percaya sama popok kain,tapi bukan popok kain yang banyak dijual dipasaran lokal,soalnya kalo pake yang cuma selembar kain percuma, malah bikin basah sampai alas tidurnya, jadi saya biasanya buat sendiri dari bahan handuk dijahit bentuk mirip popok disposable dengan perekat dipinggang. Bagusnya anak-anak jadi cepat bisa belajar buang air ditoilet segera setelah mereka bisa berdiri/berjalan kira-kira usia 12-18bulan.Jadi pemakaian popok kain sangat bermanfaat lo…

  3. Makasih Mbak Leny! Sampeyan ikut jaga lingkungan, kurangi pencemaran. Hidup Mbak Leny!

  4. unyie dinata says:

    Saya setuju dgn popok kain n popok skali pakai, pmakaiannya dkondisikan aja. Klo mang lg santai, popok kain dpakai aja, biar kulit bayi bisa bnafas & thindar dr ruam. Tp klo mang kondisi lg ribet n krg sehat, popok skali pakai bguna bgt. Jd yg mana aja, gak masalah.

  5. Pak nDobleh says:

    Njaga lingkungan ? yah pakai sarung wae……langsung cur……………..lega-irit-isis….kakakaka

  6. Boleh juga, kayak orang tua zaman dulu. Pake jarik nggak perlu celana dalam. Mau pipis tinggal nyincingkan jarik. he h eh ee

  7. Artikel yang menarik. Terima kasih sudah sharing.

Leave a Reply