Kelolaan Reksadana Turun Tipis
Jakarta, Surya - Tak seperti pasar saham yang anjlok drastis akibat badai gagal bayar di sektor perumahan di AS, volume dana kelolaan reksadana hanya turun tipis sepanjang Agustus 2007 lalu. Ini menandakan bahwa investor reksadana lebih tenang dan tidak terlalu panik menanggapi panas-dingin di pasar saham.
Terbukti dari volume dana kelolaan alias Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana yang terbukti turun tidak terlalu besar pada Agustus dibanding Juli. Pada Juli, NAB reksadana senilai Rp 73,88 triliun yang menyebar di 47,63 miliar unit reksadana. Sementara di bulan Agustus, pada saat badai sektor perumahan datang, NAB reksadana hanya turun tipis 2,7 persen menjadi Rp 45,88 triliun.
Penurunan yang tidak terlalu besar dibanding dengan anjloknya nilai kapitalisasi bursa saham yang mencapai 20 persen, senilai sekitar Rp 200 triliun. “Ini karena investor saham mayoritas asing, yang cenderung langsung panik begitu ada subprime mortgage (sektor perumahan),” kata analis dari Masyarakat Profesional Madani (MPM) Poltak Hotradero menjawab Surya. Ketenangan di segmen reksadana lantaran mayoritas investornya masih dari unsur domestik.
Ketenangan di pasar reksadana dalam menangkis resesi AS itu juga tampak dari pertumbuhan sejak awal tahun. Jika dikalkulasi sejak awal tahun, NAB reksadana tumbuh cukup besar sebesar 41,3 persen senilai Rp 21,01 triliun. Pada Januari lalu NAB baru bertengger di angka Rp 39,30 triliun.
Sebelumnya Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto menuturkan optimismenya bahwa tahun ini NAB reksadana bakal tembus antara Rp 80-100 triliun. “Optimisme kami didasarkan pada pertumbuhannya yang sangat pesat,” kata Abiprayadi.
Pada akhir 2006, dana kelolaan reksadana baru sekitar Rp 51,4 triliun. Pada posisi 23 Juli, NAB bertambah Rp 21,5 triliun atau tumbuh 42 persen menjadi Rp 72,9 triliun. Jumlah ini di luar discretionary fund yang dikelola oleh manajer investasi (MI) senilai Rp 30,8 triliun. Sedangkan pada 29 Agustus lalu, NAB turun tipis di angka Rp 71,88 triliun karena imbas gejolak pasar modal global. jbp/abs